Cinta Untuk Lenguh Gadis Pertama

Aku tahu ada yang menungguku disana. Di sebuah taman bunga yang semakin hari semakin sepi termakan masa. Tapi dia tetap disana. Gadis yang sudah kunodai sejak ia masih sekolah di tingkat pertama. Ada janji yang sudah terlontar dengan mulus dari bibirku. Janji untuk tetap bersamanya sehidup semati. Janji untuk tak pernah membiarkannya bersendirian menikmati hari. Tapi itu dulu. Sebelum aku harus melanjutkan kuliahku di kota ini. Kota yang banyak menawarkan jutaan pribadi lain yang dengan mudahnya kunodai. Ya akulah si tampan. Yang kelakuannya lebih mirip binatang jalan daripada si beriman. Tapi aku bangga dengan segala kelebihan dan kekuranganku. Walau kadangkala ada rasa bersalah menyelinap mana kala mereka menangis setelah tubuhnya habis dengan buasnya nafsuku. Tapi ya tetaplah aku. Lelaki yang mampu membuat mereka bertekuk lutut di hadapanku. Membuat mereka terseok – seok dan terkapar di pembaringannya setelah lelah melakukan persenggamaan.
***
“Mas apa kau jadi pulang? Adek kangen.”
“Sabar ya, tak lama lagi kok.”
Sebuah suara lembut dari seberang sana menginginkan kehadiranku. Dialah Anida, gadis pertama yang sudah kunodai dan juga sudah merasakan keperjakaanku. Iba rasanya, namun aku masih belum bisa menemuinya. Masih banyak kehausan yang bisa kuredam disini. Tak perlulah aku harus jauh – jauh datang menemuinya. Toh rindu ini masih belum membuncah untuk bocah kecil itu. Tenggang usia kami 11 tahun. Ya aku ini tukang cabul. Hobby mencabuli gadis d bawah umur. Dan setelah Anida masih ada beberapa korban lain lagi yang kureguk kesuciannya.
***
Malam ini aku akan mengadakan sex party dengan beberapa kawan kuliahku. Kami sudah menyewa banyak pelacur – pelacur ABG yang rela dibayar dengan ratusan ribu saja. Ya, paling – paling aku hanya menunggak uang semesteran satu bulan. Dan selanjutnya aku bisa having fun.
Rara, Stela, Dania, Rosa, adalah ABG – ABG yang baru saja menjadi pelepas “dahagaku” dan kawan – kawan. Tak ada rasa bersalah sedikitpun. Toh mereka pun sepertinya menikmati ritual gila ini. Setelah kami membayar upah mereka, kamipun melepaskan mereka meninggalkan kami yang nampak sedang melayang – layang karena beberapa miras yang juga sudah mengisi hampir setengah isi lambung kami. Ya ya ya inilah hidup kawan, kebahagiaan tak berkesudahan. Jangan biarkan waktumu terbuang hanya untuk menyusahkan hidupmu yang tak panjang.
***
Beberapa bulan berlalu sudah, dan aku masih belum menemui perempuan yang kini usianya sudah genap dua puluh tahun itu. Ia selalu sabar menantiku di taman itu. Tak pernah mengeluhkan sikap arogansiku. Ia pasrah. Mungkin karena aku yang telah mengubah status perawannya menjadi tidak lagi perawan. Tapi malam ini aku merindukannya. Entah kenapa. Kuraih handphone yang sejak tadi seperti tak bernyawa. Kutekan beberapa digit nomer gadis itu. Tiga kali aku harus mendengarkan nada sambung. Baru di kali keempat aku bisa mendengar suaranya yang masih tetap lembut.
“Eh mas Rama, ada apa? Tumben telepon?”
“Aku,, aku kangen kamu dek.” Mendadak aku tak dapat mengontrol kerinduanku ini.
“Ah masa? Kok bisa?”
“Iya bisa dong, aku kan sayang kamu..” dengan lantang aku bicara tanpa rasa segan. Aku tak mengerti mengapa aku berubah menjadi seperti keledai.
“Kok suaramu lemas? Sakit ya? kapan pulang mas?”
Deg, mendadak aku tak sanggup melanjutkan kalimat untuk membalas pertanyaannya. Ia harusnya tak lagi beharap padaku. Harusnya ia mencari pria lain yang lebih pantas untuk waia sepertinya. Bukan aku. Orang yang sudah divonis mati.
Rembas airmataku membasahi pipi. Aku benar – benar berubah menjadi banci. Seperti tak lagi memiliki kelamin.
“Anida, aku minta maaf. Aku ingin kau melupakanku.”
“Loh? kenapa mas? Apa salahku?” Ia bertanya diantara isaknya yang tiba – tiba.
“klik” telepon kututup. Aku tak sanggup menceritakan semuanya. Beban itu teramat berat untukku. Aku takkan mungkin bisa berbagi dengannya. Kini aku bukan lagi manusia yang patut sombong. Karena kini aku harus memberikan yang terbaik di sisa – sisa hidupku. Dan meninggalkannya adalah salah satu cara meringankan sedikit dosa – dosaku. Aku adalah bagian dari para pendosa. Aids adalah karmaku. Bibit itu kini sudah tumbuh menjadi pohon. Tinggal menunggu kapan saat buahnya kupanen. Taman tempatnya menunggu akan menjadi tempat terakhir kami bertemu. Saat raga ini tlah membisu dan membiru. “Anida, maaf. Cinta ini ternyata memang milikmu.”

posted under , | 5 Comments

Tugu Tani, Bukan Tugu Mati

Di sebuah hotel berbintang di bilangan Jakarta Pusat, dua orang cewek dan seorang cowok tengah asik menikmati pesta shabu.
“Gimana? Udah On belum?” si cowok yang bernama Edo bertanya kepada kedua rekannya.
“Belum nih, yuk ah nambah lagi.” Gea permpuan yang bertubuh gemuk itu menjawab sambil sesekali menghisap bong di tangannya dan menggoyang – goyangkan tubuhnya. Efek shabu selalu membuat orang yang memakai menjadi lebih semangat.
Sementara Carla sibuk sendiri mendengarkan musik dari hapenya sambil bernyanyi – nyanyi tak karuan.
“Lo mau nambah Ge? Ambil langsung ke bandar yang di dekat daerah Senen aja. Bandar langganan gue baru aja ketangkep. Ini aja barang simpanan gue.” Jelas Edo pada Gea.
“La, mau ikut nggak? Gue sama Edo mau keluar dulu beli barang. Nggak enak nih tanggung.” Tanya Gea pada Carla.
“Yuk, gue males di hotel sendirian.” Carla menjawab sambil terus mendengarkan musik dari ponselnya.
Dan mereka pun meninggalkan kamar dan menuju ke basement hotel untuk mengambil mobil.
* * *
Siang ini Ananda, Taufik, Elang, dan rekan – rekan lainnya memilih berjalan kaki di sekitar jalan HM.Rais Jakarta Pusat setelah selesai latihan futsal di lapangan Monas. Peluh membanjiri tubuh mereka. Tawa dan canda sesekali tercetus dari bibir remaja belasan tahun itu. Mereka memang terbiasa berlatih Futsal dari pagi hingga siang di lapangan Monas. Tak peduli teriknya matahari yang akan melegamkan kulit mereka. Bagi mereka futsal adalah hobi yang harus disalurkan. Olahraga ringan yang tak butuh banyak biaya.
“Eh abis ini kita mau langsung pulang atau kemana dulu? Tanya ananda pada rekan – rekannya.
“Pulang ah, mau bantuin nyokap dulu, kasian lagi nggak enak badan. Lagipula ini kan malam Imlek, lumayan tahu ikut dagang kembang api. Dapat uang jajan.” Jawab Elang dengan polosnya.
***
Di halte yang tak jauh dari gerombolan Ananda, nampak lima orang wanita dan satu anak laki – laki tengah menunggu bus setelah pulang tamasya dari Monas. Salah satu diantaranya bernama Rohayati, ia tengah menggendong anaknya sambil berbincang – bincang dengan keluarganya yang lain. Selain ingin tahu bagaimana bentuk Monas, ketujuh warga Jepara ini pun ingin mendatangi ayahandanya yang bekerja sebagai supir Bajaj di ibukota.
“Bu, busnya kok lama? Adek capek.” Tanya Agil, anak lelaki yang ada dalam gedongan Rohayati. Rohayati mengelus kepala anaknya sambil sesekali menciuminya. “Sabar yo Le, ibu juga mau ne cepat. Tapi ini kan Jakarta le, macet.” Jawab Rohayati.
“Bu, Agil nggak betah disini. Lebih enak di Jawa. Nggak ada asap. Nggak berisik. Pulang yuk bu,, pulang.. ga usah pamit sama mbah bu, Agil mau pulang.. hikzz..” Agil mulai menangis sambil memeluk ibunya.
“Iya nak kita pulang,,, Cuma sebentar kok disini… Jangan nangis ya, kita pasti pulang kok …” Rohayati coba meredam tangis Agil dan mendekap erat tubuh mungil anaknya.
* * *
Gea dan kedua rekannya masuk ke dalam mobil Xenia hitam, dan langsung bergerak meninggalkan parkiran.
“Ge, lo yakin nyetir sendiri? Lo dah on tau nggak?” Edo coba mengingatkan Gea yang merasa masih kurang dosisnya.
“Bawel ah, gue aja yang make nggak ngerasa on kok malah elo yang bawel? Udah ah, kasih tau jalannya aja.” Jawab Gea ketus sambil memainkan tangannya menyetir sambil memasang CD di player mobilnya. Mobil bergerak menuju arah jalan HM Rais.  Mobil pribadi, bus, dan angkot selalu menjadi pemandangan sehari – hari di jalan ini.
Gea memasang CD dengan volume super besar di mobilnya. Ia mulai menyetir semaunya. Gas diinjak tanpa berfikir. Kecepatan kini mulai 60km/jam, Edo dan Carla yang memilih duduk di kursi belakang berkali – kali mengingatkan Gea. Namun wanita ini sudah mulai mabuk. Ia tak bisa mengontrol dirinya sendiri.
Sampai akhirnya,.,
“Braakkkkkk,,,,”
“Agillllllll,,,”
“Allahu Akbarrr…”
“Piiiiiiiiiiikkk,,, Laaaaaangggg”
“Ya Allah……”
“tin,,tinnn… ciiitttttttt”
“Gubrakkk..”
Gea dalam keadaan mabuk menabrak beberapa orang sekaligus. Taufik, Elang, Rohayati, Agil, dan beberapa sanak famili dari Rohayati. Tubuh mereka terpental beberapa meter dari lokasi mereka di tabrak. Mereka mati di tempat. Puluhan orang memadati lokasi. Mencari tahu apa yang terjadi. Darah terus mengucur deras dari tubuh anak – anak belasan tahun itu. Rohayati terkapar terpisah dari si anak yang sudah diangkat tubuhnya oleh orang yang kebetulan sedang berjalan kaki. Tapi ternyata Agil pun sudah mengikuti ibunya menemui yang kuasa. Permintaan pulangnya tadi adalah sebuah pertanda kecelakaan maut ini yang akan menimpa mereka.
Tubuh – tubuh tak bernyawa diangkat satu persatu ke atas mobil. Dibawa ke rumah sakit terdekat.
Pihak kepolisian sudah nampak di lokasi, begitupula para pemburu berita yang sudah siap dengan camera, serta kertas dan pena.
Di sisi lain nampak Gea sedang diinterogasi oleh pihak Kepolisian dengan wajah yang sesekali di tutupi selendang hitam mencoba menghalau beberapa wartawan yang hendak mengambil gambarnya. Sementara Edo dan Carla hanya mampu merenungi nasib mereka yang sebentar lagi akan kembali check in, tapi bukan di hotel bintang 4. tapi di hotel prodeo lantai 4.

Selamat jalan saudara – saudaraku, kematian kalian adalah bentuk kecerobohan lalu lintas kita.
Semoga arwah kalian di terima disisiNya
Amienn

#15HariNgeblogFF "Kamu manis kataku,,,"

Kini Airin buta, setelah kecelakaan beberapa tahun lalu yang juga merenggut nyawa adik laki – lakinya. Airin ketakutan, ia seakan tak lagi punya harapan dan masa depan.

“Rin, mas Alan di depan tuh. Yuk keluar kamar.”  Ibu memberi tahu.
“Sudah bu, usir saja dia. Aku nggak mau ketemu dia lagi.” Jawab Airin ketus.
“Kenapa nak? Apa salah nak Alan?”
“Sudahlah bu, anak ibu ini sekarang buta. Tak akan ada lagi yang menghargai.” Ibu tak menjawab lagi. Ia terdiam Gurat kesedihan jelas nampak di wajah tuanya.
Setelah kecelakaan itu, Airin amat sangat menutup diri. Tak hanya di lingkungan kampus. Tapi ia pun menutup dirinya di hadapan kekasihnya, Alan. Ini adalah kesekian kalinya Airin tak mau menemui Alan.
Ibu meninggalkan Airin di kamar sendirian. Ibu tak mau memaksa Airin karena ia takut itu akan semakin membuat Airin sedih karena merasa dipaksa.  

“Nak Alan, maafkan ibu. Tapi Airin sepertinya belum siap menemuimu.” Ibu berkata pelan dan amat sopan.
“Tidak apa bu. Saya hanya mau memberitahukan bahwa rencana perkawinan antara saya dan Airin akan tetap dilaksanakan bagaimanapun keadaannya saat ini.”
Ibu mendengarkan perkataan Alan dengan perasaan trenyuh. Ia tak menyangka bahwa anaknya akan tetap dipinang walau kini sudah menjadi gadis buta.
 “Saya pamit bu, sampaikan salam sayang saya untuknya.”

* * *

Beberapa bulan kemudian, keluarga besar Alan mendatangi kediaman Airin. Sebelumnya Alan sudah mengingatkan pada kedua orangtuanya jika nanti Airin mendadak bersikap emosional. Karena memang Airin masih dalam kondisi yang belum stabil.

“Jadi begini pak – bu saya selaku juru bicara dari keluarga besar Sapto Kusuma hendak meminang anak bapak dan ibu, Airin. Kami keluarga besar sudah memhami kondisi Airin saat ini. Dan kami menerima semuanya dengan ikhlas.” Jelas salah seorang paman Alan.
Nampak wajah mereka semua dengan senyuman tulus ikhlas.

“Terimakasih sebelumnya, saya dan istri sangat menghargai kedatangan keluarga besar Alan. Tapi keputusan tetap ada di tangan kedua belah pihak. Apakah mereka mau atau tidak. Anak saya, Airin, sedang mengalami pertentangan batin karena kondisinya.” Ayah Airin coba memberikan penjelasan.

“Pak, izinkan saya menemui Airin..” Alan angkat bicara.
Ayah dan ibu Airin tak mampu menolak permohonan pemuda baik ini. LAlu ibu bangkit dari duduknya dan mengantar Alan menuju kamar Airin.

* * *

Di dalam kamar, Airin ditemani oleh beberapa sepupu perempuannya. Airin masih dilema. Iya tak mau membuat Alan malu dengan kondisi fisiknya saat ini. Buta bukanlah keadaan yang sederhana.
“Rin, Alan itu beneran lho sayang sama kamu. Jangan sampai kamu menyesal.” Dessy salah seorang sepupunya coba membesarkan hati Airin.
Disambung dengan anggukan dua sepupunya yang lain. Mereka semua memeluk Airin dengan penuh haru.

“Rin, ada yang mau bicara.” Ibu mengejutkan acara mengharu biru itu.
Airin tetap diam,, Sementara sepupu – sepupunya mulai bergerak menjauhi Airin. Mereka lalu meninggalkan Airin dan Alan berdua di dalam kamar.

“Rin, aku kangen sama kamu.” Alan berbicara sambil menggenggam tangan Airin.
Airin tak menarik tangannya. Ia membiarkan Alan menggenggamnya erat.
“Maafkan aku Lan, aku takut jika kebutaanku akan menjadi masalah untuk kehidupan kita kelak.”Airin menjelaskan sambil menahan tangis.
“Tak ada yang akan menjadikan ini masalah. Kita terbiasa bersama sayang. Rasanya kosong saat kau tak mau bertemu denganku.” Alan menjelaskan dengan sungguh – sungguh.

Tiba – tiba Alan melihat sebuah foto jaman dulu di meja rias Airin. Nampak disana dirinya dan Airin sedang menikmati masa – masa awal kisah cinta mereka. “Sayang ini foto waktu kita di Bandung ya? tanya Alan.
Airin tak menjawab, karena ia tak tahu foto mana yang Alan maksud. “Kamu manis kataku..” lanjut Alan dengan mata berbinar memandangi foto mereka.
Airin mulai bisa tersenyum. Alan sangat baik, ia mampu menghadirkan kepercayaan dirinya yang sempat hilang bersama penglihatannya.
Lalu Alan kembali mendekati Airin,”Rin, will you marry me?”
Airin berdiri tiba – tiba. Ia mampu bangkit dengan percaya diri. Kini ia tak hanya melihat hitam dan gelap. Tapi ia mampu merasakan warna – warni dalam alur nafasnya.
“Yes Hon .. I Will..”

#15HariNgeblogFF. "Dag Dig Dug"

“Mbak, saya tanya untu kesekian kali ya? Apa kamu yakin?” tanya seorang pria kepadaku.
“Nggak apa – apa mas, ayo mulai saja..” jawabku pasti.

Ia mulai merajam tubuhku. Kurasakan pedih ia mulai menusukkan sesuatu yang tajam di atas kulitku.

“Perih ya?”
“Iya mas, lumayan..”
“Sabar ya ..”

Lalu ia melanjutkannya lagi. Menelusuri setiap inci tubuhku. Dengan ganas ia menancapkan alat yang menari – nari di punggungku. Mataku mulai basah menahan perih. Tapi karena tekadku sudah bulat, maka aku membiarkannya meneruskan pekerjaannya.

Dua jam berlalu. Pedih itu semakin menyiksaku. Tapi aku tetap bertahan dan harus bertahan. Ini keputusanku. Kugigit sapu tangan yang sudah kusiapkan di dalam tas. Minimal aku bisa menahan teriakan kesakitanku apabila aku tanpa sengaja berteriak kesakitan.

“Mbak, sudah selesai .. coba lihat dulu di kaca hasilnya..” pinta pria itu.
Kupandangi gambar yang sudah menempel dengan apik di punggungku.“Oke mas, ini uangnya.. makasih ya..”

Lalu aku mneinggalkan studio tattoo itu dengan langkah agak lemas.

Sesampainya di rumah hatiku mendadak dag dig dug. Aku takut ketahuan bapak. Jika Bapak sampai tahu bahwa punggungku kini tak mulus lagi, maka ia akan menghabisiku dengan fatwa – fatwanya..
“Duh Gusti mati aku !!!”

Hari kedua dari lima belas hari proyek #15HariNgeblogFF 

Postingan Lama
Diberdayakan oleh Blogger.

Followers


Recent Comments